Menggali Ilmu Pertolongan Pertama Bersama PMI Sidoarjo dan MPM Honda Jatim, Belajar dari Mitos dan Fakta




Sob, beberapa blogger dan vlogger terkemuka dari Jawa Timur baru-baru ini berkumpul untuk menghadiri acara Gathering and Basic Life Support (BLS). Acara ini dihadiri oleh Mas Nanda (Mojho VB), Cak Mukhlis (Ammotovlog), Kang Angga (ndeso94.com), Kang Marnu (jurnaloto.com), Pak RT (ridertua.com), Mas Daffa (manofwheels.com), Kang Heri (setia1heri.com), dan Sam Andi (aselimalang.com). Dalam sesi ini, mereka mendapat kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang pertolongan pertama pada kecelakaan, khususnya yang berkaitan dengan pengendara sepeda motor.



Meluruskan Mitos Pertolongan Pertama

M. Musa Kalimullah, S.Kep dari Palang Merah Indonesia (PMI) Sidoarjo, menyampaikan materi Basic Life Support (BLS) atau First Aid. Salah satu fokus utama adalah meluruskan beberapa mitos yang sering kali salah dipahami dalam pertolongan pertama. Berikut beberapa poin penting yang diungkap:

Kompres demam: Kompres sebaiknya dilakukan di area ketiak, bukan di dahi. Ketiak adalah lokasi yang lebih tepat untuk mengukur suhu tubuh dan membantu menurunkan panas secara efektif.

Suhu air kompres: Gunakan air bersuhu netral atau air dari kamar mandi, bukan air dingin atau air hangat yang ekstrem. Tujuannya adalah untuk membantu tubuh beradaptasi, bukan memberikan kejutan suhu.

Mengecek nadi: Terdapat empat titik utama untuk mengecek nadi: pergelangan tangan di bawah ibu jari, lipatan siku, leher, dan pangkal paha. Mengetahui lokasi ini penting untuk memastikan korban masih memiliki denyut jantung.

Memberi minum korban kecelakaan: Korban kecelakaan tidak boleh langsung diberi minum. Mereka hanya boleh minum jika mampu memegang dan minum sendiri. Tindakan ini untuk menghindari risiko tersedak atau hal lain yang bisa memperburuk kondisi.

Fungsi kapas P3K: Kapas di dalam kotak P3K bukan untuk membersihkan luka, melainkan sebagai tempat meneteskan minyak kayu putih untuk merangsang indera penciuman.

Ketika seseorang mengalami kejang, jangan menahan atau memeganginya dengan kuat. Cukup pastikan area sekelilingnya aman dari benda-benda berbahaya untuk mencegah cedera tambahan.

Praktik Langsung untuk Keterampilan yang Tepat

Selain teori, peserta juga diajarkan praktik langsung, termasuk teknik pembidaian dan CPR (Resusitasi Jantung Paru). Untuk CPR, instruktur menjelaskan bahwa titik penekanan yang tepat adalah di area ulu hati ditambah satu jari ke atas. Penekanan dilakukan selama dua menit untuk membantu memacu jantung korban yang mengalami serangan.



Mengakhiri acara, M. Musa Kalimullah menyampaikan pesan penting: “Prinsipnya menolong orang itu tidak hanya butuh keberanian, namun juga dengan cara yang tepat agar tidak semakin parah cederanya.”

Dengan pengetahuan dan praktik yang benar, kita bisa memberikan pertolongan pertama yang efektif. Jangan lupa, jika terjadi kecelakaan, segera hubungi bantuan medis di nomor 112 atau 119 sambil memberikan pertolongan pertama.

Terimakasih komenya,maaf kalau ndak bisa bales satu persatu :D