Sob,lagi rame ngomongin motogp yah???tapi kali ini saya tidak akan membahas motogp,karena sudah banyak blog blog dewa yang membahasnya.
Yuppss…kali ini saya akan membahas istilah “Titip” pada saat boperasi lalulintas yang dikakukan oleh polisi.
Ceritanya begini sob,kemarin siang ada teman saya yang meminjam motor saya untuk mengantarkan pesanan barang dari konsumenya yang kebetulan sudah lain kabupaten,teman saya yang berKTP Blitar mengantarkan Barang pesanan ke Kediri.
Pada saat perjalanan mengantar barang kebetulan ada operasi tertip lalulintas,teman saya PD karena merasa tidak ada yang salah baik dengan motor,SIM,STNK semuanya lengkap bin komplit,Laaahhh…ndilalah lampu motor saya mati (karena konslet).Langsung saja teman saya menepi dan dimintai kelengkapan motor dan petugas polisi ngomong.
pls : lampunya kok tidak dinyalakan
tmn : Sudah nyala kok pak
pls : mana ❓
tmn : lampunya kok mati ya ❓ (teman saya keheranan padahal posisi sklar sudah “ON” )
pls : bapak saya tilang karena (bla..bla..bla…)
Teman saya ditawari tilang apa nitip?lalu teman saya pilih nitip saja simple g repot sidang (kata temen saya) nego berjalan mulai dari Rp 50.000 sampai akhirnya kena Rp 30.000.
Jika sesuai dengan undang undang No 22/2009 tentang kewjiban kendaraan roda 2 yang wajib menyalakan lampu dari jam 06:00 sampai 18:00 dan setiap kendaraan yang melanggar akan dikenakan sanksi kurungan maksimal 1 bulan dan denda sebesar Rp 2500.000 CMIIW 😀
Jika akhirnya teman saya tadi berhasil nego hingga akhirnya kena denda Rp 30.000 sebenarnya uang itu memang untuk membayar denda kemudian dimanfaatkan untuk sesuatu yang positif atau malah larinya ke kantong yang butuh disisi ? ada g sih sebenarnya “titip” itu ?
Pada saat yang sama juga ada pengguna kendaraan roda empat yang tidak menggunakan sabuk pengaman cuma ditanya tanya lalu bebas pergi (no pict) 😀
Ada yang bisa memberikan pencerahan sob?








